Said Achmad Kabiru Rafiie: Menumbuhkan Harapan dari Lahan Sempit Lewat Urban Farming di Aceh

Menumbuhkan Harapan dari Lahan Sempit Lewat Urban Farming di Aceh

Di tengah padatnya kehidupan perkotaan yang serba cepat, udara yang kian panas, serta ruang hijau yang semakin menipis, ada satu sosok muda dari Aceh yang memilih melawan arus. Namanya Said Achmad Kabiru Rafiie. Dengan tangan kotor oleh tanah dan semangat hijau di hati, ia menanam bukan hanya sayuran, tetapi juga kesadaran baru: bahwa ruang kecil di tengah kota pun bisa menjadi sumber kehidupan dan harapan.

Kecintaan Said terhadap tanaman bermula dari halaman kecil di rumahnya di Banda Aceh. Sejak kecil ia terbiasa membantu ibunya menanam cabai dan tomat di pot bekas. Dari kebiasaan sederhana itu, ia belajar bahwa menanam bukan hanya tentang hasil panen, tetapi juga tentang kesabaran, keberlanjutan, dan hubungan manusia dengan alam.

Ketika dewasa, Said mulai melihat bahwa masalah pangan dan lingkungan di kota semakin serius. Banyak lahan tidur terbengkalai, sementara kebutuhan pangan meningkat. Dari situlah ia mulai berpikir bagaimana mengubah lahan sempit menjadi kebun produktif. Gagasan itu kemudian berkembang menjadi gerakan urban farming—pertanian kota yang memanfaatkan lahan terbatas untuk menanam tanaman produktif dan menyehatkan.


Urban Farming: Menyulap Ruang Kecil Menjadi Sumber Kehidupan

Bersama komunitas kecil yang ia bentuk, Said mengubah halaman sempit, atap rumah, bahkan gang sempit menjadi ruang hijau yang hidup. Ia memperkenalkan teknik hidroponik, vertikultur, dan sistem pot bertingkat, agar siapa pun bisa menanam di mana pun. Ia juga mengajarkan penggunaan pupuk organik hasil daur ulang sampah rumah tangga, mengubah limbah dapur menjadi sumber nutrisi bagi tanaman.

Bagi Said, urban farming bukan sekadar kegiatan bercocok tanam, tapi gerakan sosial dan ekologis. Melalui pelatihan yang rutin ia adakan, ia mengajak masyarakat kota—terutama ibu rumah tangga dan generasi muda—untuk memanfaatkan ruang di sekitar mereka. Ia ingin membuktikan bahwa solusi lingkungan tidak harus rumit, cukup dimulai dari langkah kecil di rumah masing-masing.

Aceh, seperti daerah lainnya di Indonesia, kerap menghadapi tantangan distribusi pangan akibat ketergantungan pada pasokan luar daerah. Melalui urban farming, Said ingin mendorong kemandirian pangan lokal. Warga diajak menanam sayur yang mereka konsumsi sendiri: kangkung, bayam, cabai, dan tomat. Dengan begitu, selain menghemat biaya belanja, mereka juga lebih sadar akan pentingnya makanan sehat dan ramah lingkungan.

Gerakan ini berkembang pesat. Beberapa kawasan di Banda Aceh kini memiliki kebun komunitas yang dikelola bersama. Hasil panennya dijual di pasar hijau berbasis komunitas, dan sebagian lainnya disumbangkan untuk dapur umum atau warga kurang mampu. Dari situ, urban farming menjadi bukan sekadar kegiatan ekonomi, tetapi juga solidaritas sosial.


Menanam Kesadaran Lewat Pendidikan Lingkungan

Salah satu inovasi Said yang menarik adalah konsep “Sekolah Alam Kota”. Ia bekerja sama dengan sekolah dan pesantren untuk menjadikan kegiatan menanam sebagai bagian dari pendidikan karakter. Anak-anak belajar mengenal jenis tanaman, membuat kompos, hingga memanen hasil kebun mereka sendiri. Melalui kegiatan itu, Said ingin menanamkan nilai tanggung jawab terhadap bumi sejak dini.

Tidak hanya di sekolah, ia juga membangun bank bibit lokal, di mana setiap peserta pelatihan diwajibkan menyumbangkan sebagian benih hasil panennya untuk disebarkan ke warga lain. Dengan cara ini, siklus kebaikan terus berputar—dari satu rumah ke rumah lain, dari satu kebun kecil menjadi gerakan hijau yang tumbuh di seluruh kota.

Urban farming yang digagas Said juga berperan sebagai solusi menghadapi perubahan iklim. Dengan banyaknya taman mini dan kebun vertikal di area perkotaan, suhu udara di lingkungan tersebut menjadi lebih sejuk dan kualitas udara meningkat. Said juga mengembangkan pupuk cair alami dari sisa dapur untuk menggantikan bahan kimia berbahaya.

Bahkan, ia mulai memperkenalkan sistem digital sederhana untuk memantau pertumbuhan tanaman melalui ponsel. Dengan inovasi itu, warga bisa mencatat waktu penyiraman, pemberian nutrisi, hingga hasil panen. Teknologi dan lingkungan, menurutnya, harus berjalan seiring demi menciptakan solusi yang berkelanjutan.

Urban farming yang digagas Said juga berperan sebagai solusi menghadapi perubahan iklim.


Apresiasi atas Gerakan Hijau dari Aceh

Dedikasi Said dalam membangun kesadaran lingkungan dan ketahanan pangan di perkotaan membawa dampak luas. Ratusan keluarga kini aktif bercocok tanam di rumahnya sendiri. Komunitasnya tumbuh menjadi ruang belajar bagi siapa pun yang ingin hidup lebih hijau.

Atas kiprah tersebut, Said Achmad Kabiru Rafiie dianugerahi Apresiasi SATU Indonesia Awards tahun 2023 di bidang Lingkungan. Penghargaan ini menjadi pengakuan atas peran anak muda Aceh dalam memperjuangkan bumi yang lebih lestari melalui langkah sederhana, nyata, dan berkelanjutan.

Bagi Said, penghargaan hanyalah bentuk penyemangat untuk terus melangkah. Baginya, yang paling penting adalah bagaimana semakin banyak orang sadar bahwa bumi yang kita pijak perlu dirawat bersama. Ia percaya, perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil—dari satu pot tanaman di rumah, dari satu keluarga yang mau menanam.

Kini, gerakan urban farming di Aceh bukan sekadar proyek lingkungan. Ia telah menjadi gerakan sosial, tempat harapan tumbuh di sela dedaunan, dan bukti bahwa manusia dan alam dapat hidup berdampingan dengan harmoni.

Karena bagi Said, menanam bukan hanya soal tanah dan benih, tapi soal masa depan yang ingin kita hijaukan bersama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengelola Keuangan Rumah Tangga Agar Aman di Masa Sulit

Menyemai Akar Pengetahuan Lewat Sekolah Adat Arus Kualan