Menyemai Akar Pengetahuan Lewat Sekolah Adat Arus Kualan
Di tengah rimba Kalimantan Barat yang hijau dan berlapis kabut pagi, berdirilah sebuah sekolah sederhana yang menjadi rumah bagi anak-anak adat Dayak di pedalaman Kapuas Hulu. Sekolah itu bukan sekolah biasa. Ia lahir dari keinginan untuk mempertahankan identitas, menjaga alam, dan menumbuhkan generasi muda yang tidak tercerabut dari akarnya. Sekolah itu bernama Sekolah Adat Arus Kualan, dan di balik gerak hidupnya ada sosok perempuan tangguh bernama Potentina.
Menumbuhkan Pendidikan dari Bumi dan Budaya
Potentina tumbuh besar di lingkungan masyarakat adat Dayak, di mana pengetahuan diwariskan lewat cerita, nyanyian, dan ritual yang sarat makna. Namun seiring waktu, arus modernisasi perlahan mengikis ruang bagi tradisi. Anak-anak lebih mengenal gawai daripada hutan, lebih hafal pelajaran di buku teks daripada kearifan leluhur yang menjaga keseimbangan alam. Dari keprihatinan itulah muncul tekad Potentina untuk menghidupkan kembali pendidikan berbasis budaya lokal.
Ia meyakini bahwa pendidikan sejati tidak boleh memisahkan anak dari lingkungannya. Dalam pandangannya, sekolah seharusnya menjadi tempat di mana anak belajar mengenal tanah tempat mereka berpijak, bahasa yang mereka warisi, dan alam yang memberi mereka kehidupan. Maka pada tahun-tahun awal berdirinya Sekolah Adat Arus Kualan, Potentina dan para tetua adat mulai merancang sistem belajar yang berakar pada kehidupan sehari-hari masyarakat.
Di sekolah ini, pelajaran tidak hanya berlangsung di dalam ruangan, tetapi juga di hutan, sungai, dan ladang. Anak-anak belajar tentang tumbuhan obat, membaca tanda-tanda alam, mengenal nama-nama burung, hingga memahami ritual adat. “Kami ingin anak-anak belajar dengan kaki di tanah dan hati pada alam,” ujar Potentina dalam satu kesempatan wawancara.
Sekolah yang Hidup dari Komunitas
Sekolah Adat Arus Kualan bukan lembaga formal yang berdiri atas nama pemerintah, melainkan hasil inisiatif masyarakat. Ia tumbuh dari kesadaran kolektif bahwa menjaga budaya berarti juga menjaga masa depan. Potentina bersama para tokoh adat, ibu-ibu, dan pemuda membangun sekolah ini secara gotong royong—dari mendirikan bangunan hingga menyusun kurikulum.
Tidak ada guru berseragam yang datang setiap pagi dengan jadwal ketat. Di sini, yang menjadi pengajar bisa siapa saja: para tetua yang menguasai bahasa dan cerita rakyat, ibu-ibu yang ahli menenun dan menanam, atau pemuda yang memahami teknologi dasar untuk mendokumentasikan kegiatan belajar. Sistem pengajaran ini menjadikan sekolah adat terasa hidup, lentur, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Potentina juga berperan besar dalam menjembatani pengetahuan adat dengan dunia luar. Ia berupaya agar masyarakat adat tidak hanya dikenang lewat cerita masa lalu, tetapi juga menjadi bagian dari masa depan bangsa. Ia membuka ruang dialog antara masyarakat dan akademisi, memperkenalkan nilai-nilai pendidikan adat ke berbagai forum, dan melibatkan anak-anak sekolah adat dalam kegiatan lingkungan serta kebudayaan tingkat nasional.
Melawan Arus Keterpinggiran
Membangun sekolah di pedalaman tentu tidak mudah. Potentina menghadapi tantangan yang datang dari berbagai sisi: keterbatasan akses, minimnya sumber daya, dan pandangan sebagian orang yang menganggap sekolah adat tidak penting. Namun ia tidak menyerah. Ia sadar bahwa perjuangan menjaga pendidikan berbasis adat adalah perjuangan jangka panjang.
Bagi Potentina, yang ia lakukan bukan sekadar mengajar, melainkan meneguhkan jati diri anak-anak adat agar tidak kehilangan arah di tengah arus globalisasi. Ia ingin mereka mampu berjalan di dua dunia: dunia modern yang menuntut kemampuan akademik dan dunia leluhur yang menanamkan nilai-nilai kebijaksanaan ekologis.
Upayanya pelan-pelan membuahkan hasil. Anak-anak yang belajar di Sekolah Adat Arus Kualan mulai tumbuh dengan rasa bangga terhadap identitas mereka. Mereka fasih menggunakan bahasa daerah, memahami aturan adat, dan memiliki kesadaran kuat untuk menjaga hutan serta sungai. Beberapa dari mereka kini bahkan terlibat sebagai relawan lingkungan dan pendokumentasi budaya.
Sekolah Adat sebagai Ruang Peradaban.
Di tangan Potentina, Sekolah Adat Arus Kualan menjadi bukti nyata bahwa pendidikan tidak harus bersumber dari kota besar untuk menjadi bermakna. Pendidikan bisa lahir dari tanah yang sederhana, dari pondok-pondok bambu, dari kisah nenek moyang yang diajarkan di tepi sungai.
Melalui pendekatan yang humanis dan kontekstual, sekolah ini bukan hanya tempat belajar membaca dan menulis, tetapi juga wadah untuk menanam nilai-nilai seperti hormat pada alam, solidaritas, dan gotong royong. Anak-anak belajar bahwa menjaga hutan bukan hanya tugas pemerintah atau aktivis, tetapi kewajiban moral setiap anak adat yang hidup dari alam.
Potentina juga terus mendorong kolaborasi dengan pihak luar tanpa kehilangan jati diri. Ia menerima bantuan dan pelatihan dari berbagai lembaga pendidikan dan komunitas, tetapi selalu menegaskan bahwa sekolah adat harus tetap berakar pada nilai-nilai lokal. Prinsip ini membuat Arus Kualan tetap otentik dan dihormati, baik oleh masyarakat adat maupun pengunjung dari luar daerah.
Inspirasi untuk Pendidikan Berkeadilan
Apa yang dilakukan Potentina sejatinya adalah bentuk nyata dari pendidikan yang berkeadilan: pendidikan yang tidak mendikte, tetapi mendengarkan; yang tidak menyeragamkan, tetapi merayakan keberagaman. Melalui Sekolah Adat Arus Kualan, ia menunjukkan bahwa setiap komunitas memiliki cara sendiri dalam mendidik anak-anaknya, dan setiap pengetahuan lokal memiliki nilai yang tak ternilai untuk dunia modern.
Kini, suara dan kerja Potentina diakui secara nasional. Ia menjadi salah satu penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards 2023 di bidang Pendidikan, sebuah penghargaan yang diberikan kepada generasi muda yang berkontribusi nyata bagi masyarakat. Penghargaan itu bukan sekadar pengakuan atas kerja kerasnya, tetapi juga simbol bahwa pendidikan berbasis budaya memiliki tempat penting dalam perjalanan bangsa.
Penutup
Potentina dan Sekolah Adat Arus Kualan telah membuka jalan baru dalam dunia pendidikan Indonesia. Dari tepian hutan Kapuas Hulu, mereka mengajarkan kita bahwa pengetahuan sejati tidak hanya berasal dari buku, tetapi juga dari tanah tempat kita berpijak dan dari kearifan yang diwariskan turun-temurun.
Di tengah zaman yang sering melupakan akar, Potentina mengingatkan bahwa pendidikan terbaik adalah yang menumbuhkan manusia dengan akar yang kuat dan sayap yang lebar—agar mereka mampu terbang tinggi tanpa kehilangan asalnya.


Komentar
Posting Komentar